Pandangan Para Frater Sanggau terhadap Forum Mahasiswa/Mahasiswi Keuskupan Sanggau
Malang,27 Oktober 2025. Frater atau juga disebut calon imam adalah sebutan bagi orang muda katolik yang ingin menjadi imam katolik. Dalam Proses menjadi Imam, Para Frater perlu dipersiapkan secara matang terlebih dahulu selama kurang lebih 10 tahun pembinaan. Dalam tahun-tahun pembinaan yang cukup panjang ini, tahun 2025 Para Frater Projo Keuskupan Sanggau berupaya untuk membangun relasi dan menjaga iman anak muda sanggau di perantahuan Malang. Sehingga, dibentuklah FORMAKA KESA. Frater Santo Yohanes Pr selaku Ketua Unio Para Frater Keuskupan Sanggau periode 2025-2026 juga turut menyampaikan pandangannya terkait forum ini. Berikut yang ia sampaikan.
Teman-teman yang terkasih, Dalam narasi Injil, ada pola pemanggilan dan pembentukan murid yang menjadi inti karya Yesus: Ia memanggil orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti nelayan, pemungut cukai, pekerja, dan mengajak mereka berjalan bersama untuk belajar mendengarkan, menyaksikan, dan diutus (Mat: 4:18-22; Luk: 5:1-11; Mrk: 3:13-19). Panggilan itu tidak terfokus pada kategori usia semata, melainkan pada keberanian untuk meninggalkan cara hidup lama dan mengikuti Sang Guru. Dalam dinamika itulah para murid mulai bertumbuh, memahami kehendak Allah, belajar melayani, serta dibentuk karakter kerasulan mereka. Pola pemuridan ini menegaskan sebuah prinsip pastoral yang relevan bagi pembentukan kaum mahasiswa: pemanggilan terhadap misi berasal dari perjumpaan hidup dengan Kristus dan berlangsung melalui proses berjalan-bersama, pembelajaran, koreksi, dan pengutusan. Bertolak dari hal itu, Forum Mahasiswa/Mahasiswi Keuskupan Sanggau lahir sebagai perpanjangan pola pemuridan ini: membangun komunitas yang meneguhkan, memperdalam iman, menajamkan nalar kritis, dan mengarahkan semangat muda pada misi Gereja. Seperti yang sudah kita ketahui dan saksikan bersama bahwa dunia sekarang ini sedang berada tengah derasnya arus sekularisme, maka fungsi forum ini menjadi ruang aman sekaligus tantangan kreatif agar mahasiswa tidak sekadar mencari ilmu untuk dirinya sendiri, melainkan memupuk keteguhan hati untuk mengikuti Kristus dalam segala situasi.
Bila kita membaca dalam Alkitab, tampak bahwa para murid Yesus pun mengalami berbagai tantangan, kegagalan, keraguan, perselisihan, bahkan kejatuhan moral. Namun Yesus tidak pernah meninggalkan mereka; Ia selalu menuntun kembali agar mereka bertumbuh dalam kedewasaan iman. Nah, dalam konteks mahasiswa/I yang sedang bergelut di dunia kampus, tampaknya selalu ada tantangan-tantangan, seperti godaan untuk menyerah, tekanan pergaulan, sikap apatis terhadap Gereja, dan kehilangan motivasi rohani. Oleh karena itu, Forum ini diharapkan menjadi tempat di mana setiap mahasiswa diterima apa adanya namun tidak dibiarkan apa adanya, melainkan dibantu untuk selalu bangkit dan menemukan kembali arah hidup dalam terang iman. Maka forum ini bukan hanya tempat organisasi, melainkan ruang formasi spiritual dan psikologis yang mendalam, tempat setiap pemuda dilatih menjadi pribadi yang tangguh serta peka akan panggilannya.
Mari kita renungkan nasihat Paulus kepada Timotius: “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1Tim 4:12). Dalam nasihat ini, Paulus menekankan pentingnya integritas pribadi dan kesaksian hidup, bukan sekadar kemampuan atau status. Pesan ini relevan bagi setiap orang, terutama bagi mahasiwa-mahasiswi Keuskupan Sanggau yang sedang menempuh masa studi. Paulus mengajak untuk mengutamakan pertumbuhan rohani dan moral dalam setiap tindakan, agar iman yang dimiliki menjadi nyata dan berdampak bagi lingkungan sekitar. Nasihat ini juga menegaskan bahwa usia atau pengalaman bukan penghalang bagi kesetiaan kepada Allah; justru, dengan hati yang teguh dan hidup yang konsisten, setiap pribadi muda dapat menjadi teladan yang menginspirasi orang lain, memancarkan kasih, dan meneguhkan komunitas di sekitarnya.
Paus Fransiskus dalam dokumen Christus Vivit mengatakan bahwa: “Teman-teman muda, janganlah menunggu sampai esok hari untuk bekerja sama dalam mengubah dunia dengan energi, keberanian, dan kreativitas kalian. Masa muda kalian bukanlah “sementara itu.” Kalian adalah masa kini Allah, dan Ia ingin kalian berbuah. Karena “dengan memberi maka kita menerima,” cara terbaik untuk mempersiapkan masa depan yang cerah adalah dengan menghidupi masa kini sebaik mungkin, dengan dedikasi dan kemurahan hati.” (CV 178). Dalam konteks ini, Gereja tidak boleh berjalan lambat hingga tertinggal oleh semangat anak muda; sebaliknya, Gereja harus memberi ruang kepada energi mereka untuk memperbarui cara Gereja hadir di tengah masyarakat. Untuk itu, FORMAKA KESA ini menjadi bagian dari jawaban Para Frater Projo Keuskupan Sanggau terhadap ajakan tersebut: memberikan wadah bagi kaum muda untuk terlibat dalam pelayanan pastoral yang kontekstual, komunikatif, digital, inovatif, dan menyentuh kebutuhan nyata umat. Dengan terlibat aktif, mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi menjadi motor gerakan Gereja.
Konsili Vatikan II melalui Gaudium et Spes mengajak seluruh umat beriman untuk terlibat dalam proses pembangunan dunia, terutama melalui ilmu dan budaya (GS 43). Mahasiswa adalah kelompok umat yang sedang ditempa untuk menjadi pemikir, profesional, pemimpin, dan penggerak masa depan. Maka, untuk mempersiapkan hal itu, forum ini memperkuat kesadaran bahwa perkuliahan bukan sekadar persiapan karier, melainkan bagian dari karya perutusan. Pengetahuan yang diperoleh harus kembali berbuah bagi Gereja dan masyarakat, khususnya bagi mereka yang paling membutuhkan. Dengan begitu, forum ini mempertemukan dua dunia: dunia kampus dan dunia iman, sehingga keduanya memperkaya dan saling meneguhkan.
Tentu saja, mahasiswa/i Katolik Keuskupan Sanggau dipanggil untuk memiliki hati yang melayani, meneladani kasih dan kepedulian Yesus. Dalam Matius 5:13-16, Yesus menegaskan bahwa murid-murid-Nya harus menjadi garam dan terang dunia, artinya iman yang hidup harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi sesama. Bertolak dari hal itu, Forum Mahasiswa/Mahasiswi Keuskupan Sanggau berfungsi sebagai ruang pembentukan karakter kepemimpinan yang melayani (servant leadership), di mana setiap mahasiswa belajar memimpin bukan demi prestise, melainkan demi pelayanan, pertumbuhan rohani, dan transformasi sosial. Karakter kepemimpinan seperti ini sangat dibutuhkan, tidak hanya dalam Gereja, tetapi juga bagi masyarakat dan bangsa, agar nilai kasih Kristus dapat hadir dalam setiap aspek kehidupan.
Salah satu tantangan besar era modern adalah individualisme. Banyak mahasiswa memperjuangkan mimpi pribadi tanpa lagi merasakan kebutuhan untuk membangun komunitas. Dalam menyikapi hal ini, Forum Mahasiswa/Mahasiswi Keuskupan Sanggau menjadi sarana melatih kebersamaan, dialog, dan kolaborasi dalam semangat sinodalitas sebagaimana ditekankan Gereja pada masa kini. Dengan berjalan bersama, mahasiswa belajar bahwa pertumbuhan iman tidak pernah bersifat soliter, melainkan selalu berkaitan dengan sesama, khususnya mereka yang lebih lemah. Forum ini menjadi sekolah persaudaraan kristiani.
Perlu diketahui bahwa masa studi adalah fase pencarian identitas dan arah panggilan hidup. Gereja percaya setiap orang memiliki panggilan unik yang harus ditemukan, dipahami, dan dihidupi demi kemuliaan Allah dan kesejahteraan banyak orang. Forum ini dapat menjadi sarana pendampingan panggilan: membantu mahasiswa bertanya secara jujur, “Aku hendak menjadi apa? Aku hendak hidup untuk siapa?” Tidak semua dipanggil menjadi imam atau religius, tetapi semua dipanggil menjadi murid yang berbuah. Maka, melalui forum ini, para mahasiswa bisa menemukan bahwa melalui profesi apa pun, baik guru, dokter, politisi, pebisnis, seniman, dan seterusnya dapat menjadi jalan kekudusan apabila dijalani dengan iman dan cinta.
Dalam konteks masyarakat yang terus berubah, evangelisasi harus hadir di ruang-ruang baru: dunia digital, komunitas akademik, organisasi publik, dan kegiatan sosial. Forum Mahasiswa/Mahasiswi Keuskupan Sanggau dapat menjadi ujung tombak misi kerasulan kaum muda dalam berbagai bentuk: edukasi nilai kemanusiaan, advokasi keadilan sosial, pemberdayaan masyarakat kecil, dan kesaksian iman melalui media modern. Roh Kudus bekerja melalui kreativitas anak muda, sehingga forum ini bisa menjadi “laboratorium evangelisasi masa kini”: menggumuli tantangan nyata dan menghadirkan tanda-tanda harapan yang konkret.
Dengan seluruh pendasaran biblis dan ajaran Gereja tersebut, tentu kami para Frater Sanggau sangat bangga atas terbentuknya FORMAKA KESA (Forum Mahasiswa-Mahasiswi Keuskupan Sanggau) ini, dan kami memandang bahwa forum ini sebagai karya Tuhan yang sedang bertumbuh di tengah Gereja. Ini merupakan suatu pencapaian bagi Keuskupan Sanggau yang patut kita syukuri dan terus dikembangkan. Bagi kami, Forum ini bukan sekadar organisasi mahasiswa, tetapi tempat formasi yang integral: iman, nalar, karakter, relasi, dan misi. Di dalamnya, para mahasiswa diasah menjadi pribadi yang matang dan siap menjawab kebutuhan Gereja dan bangsa. Kami percaya bahwa melalui forum ini akan lahir pemimpin-pemimpin muda Katolik yang memiliki hati Kristus: pemimpin yang berani, cerdas, rendah hati, serta siap melayani tanpa pamrih. Mereka akan menjadi pembawa terang di tengah dunia yang sering gelap, menebar kabar sukacita di tengah kesulitan, dan menjadi saksi harapan yang menunjukkan bahwa Tuhan sungguh hadir dan bekerja dalam generasi muda masa kini. Jaya selalu FORMAKA KESA. Salam kasih Kristus.
Penulis: Fr. Santo Yohanes, Pr
Editor: Fr. Teodorus Tio, Pr